Sabtu, 12 Januari 2013

menjadi lempung

dulu, seseorang pernah mengatakan pada saiah:

kesalahan yang tertancap dalam hati seseorang itu seperti paku yang tertancap pada kayu
sekali tertancap, bagaimanapun telah kita mencabut pakunya, tetap saja ia akan meninggalkan bekas
memaafkan kadang tidak selalu sama dengan melupakan
tetap saja ia akan meninggalkan luka

maka sekarang, ijinkan saiah mengatakan:
biarkan saiah memilih menjadi lempung
mungkin ia akan banyak tertancap paku
tertusuk beribu duri
tapi ia akan tetap kembali
membiarkan apa yang menyakitinya berlalu
tanpa meninggalkan jejak

entahlah
saiah tak tahu apa perumpamaan ini benar
saiah hanya ingin berusaha
bahwa buat saiah memaafkan berarti juga melupakan

kenapa harus tetap ada bekas luka untuk setiap kesalahan orang lain pada kita?
bukankah seharusnya bekas itu ada pada yang melakukan kesalahan,
agar ia tak mengulang kebodohan yang sama??
entahlah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar